Hai sahabat cat lovers kembali lagi K and P Clinic ingin membagi pengalaman dan pengetahuan untuk sahabat cat lovers sekalian. Kali ini melanjutkan salah satu poin dari artikel “Tips Mengadopsi Kucing yang Baik dan Benar” yaitu poin “Pastikan kucing yang anda adopsi sudah diberi obat cacing”. Seberapa penting kah obat cacing untuk anak bulu anda? Dan seberapa bahaya kah Helminthiasis itu?

Helminthiasis atau cacingan merupakan suatu penyakit yang umum ditemukan pada kucing. Pada kasus yang ringan jarang kucing menunjukan gejala sakit dan perlu pemeriksaan mikroskopis untuk mengetahuinya, sedang pada kasus yang berat kita bisa temui kasus diare, feses berdarah ataupun kita menemukan cacing dewasa pada feses kucing.

Kucing yang terinfestasi Helminthiasis biasanya tubuhnya akan kurus walaupun nafsu makannya bagus, hal ini disebabkan nutrisi pakan yang masuk ke tubuh kucing tidak dapat dicerna dengan maksimal oleh organ pencernaan si kucing karena adanya cacing pada saluran tersebut, karena ketidakmampuan usus mencerna nutrisi dari pakan dengan sempurna sehingga menyebabkan feses cair atau diare. Pada dasarnya kucing dari semua usia dan ras dapat menderita cacingan. Anak kucing yang baru lahir dapat tertular cacing dari induknya. Anak kucing yang terserang cacingan dapat mengalami diare berkepanjangan, terhambat pertumbuhannya atau mati karena kekurangan cairan (dehidrasi) dan kekurangan gizi. Dan kucing dewasa dapat terinfeksi cacing melalui telur cacing yang tidak sengaja tertelan. Kutu terkadang juga dapat membawa telur cacing sehingga dapat menimbulkan kucing terinfeksi.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mewaspadai infeksi cacing pada kucing. Periksa konsistensi kotoran (padat, lembek, cair), periksa apakah terdapat segmen cacing yang ikut keluar bersama kotoran, periksa adakah darah pada kotorannya, apabila ada darah, menandakan dinding usus atau lambung kucing terluka. Luka tersebut dapat juga disebabkan oleh cacing yang merusak dinding usus untuk mendapatkan makanan. Selalu lakukan penimbangan berat badan pada kucing secara rutin minimal seminggu sekali, waspadai penurunan berat badan yang signifikan pada kucing, perhatikan kucing yang tubuhnya semakin kurus dengan perut yang membuncit. Perhatikan kesehatan dan kelembapan pada bulu dan kulit kucing, kucing yang cacingan bulunya akan terlihat kusam, kering, dan berdiri. Perhatikan juga warna gusi kucing, warna gusi normal pada kucing adalah merah atau merah muda. Gusi yang berwarna pucat mengindikasikan terjadinya anemia dalam tubuh kucing, anemia dapat disebabkan oleh cacing yang menyerap nutrisi dalam jaringan tubuh kucing atau karena infeksi sehingga terjadi perdarahan di dalam tubuh kucing. Jika ditemukan kondisi seperti disebutkan diatas segera bawa kucing anda ke dokter hewan untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dan klinik K and P sendiri menyediakan jasa pemeriksaan dibawah mikroskop untuk memastikan adanya telur cacing pada feses kucing atau tidak.

Terdapat 2 jenis cacing yang paling sering dijumpai pada usus kucing, yaitu cacing gilig (round worm) dan cacing pita (tape worm).

  1. Cacing Gilig

Cacing gilig yang paling banyak terdapat pada kucing berasal dari spesies Toxocara cati dan Toxocaris leonina. cacing ini biasanya berwarna putih atau kuning kecoklatan, panjangnya sekitar 5 – 10 cm. Jika melihat benda panjang seperti mie pada kotoran kucing atau muntahan kucing, besar kemungkinan pada kucing tersebut terdapat cacing gilig ini.

Gejala yang paling umum akibat adanya infestasi cacing ini adalah : perut yang membuncit, kotoran lunak dan terkadang disertai diare, sering muntah dan kucing kelihatan lesu atau malas bergerak.

Telur cacing gilig keluar dari tubuh kucing bersama dengan tinja, telur ini bisa bertahan berbulan bulan atau bahkan bertahun tahun. Apabila telur ini tertelan oleh kucing, maka telur akan menetas dalam tubuh kucing dan mengulang siklus yang sama. Selain itu penularan juga bisa terjadi apabila kucing memakan tikus yang sebelumnya memakan telur cacing ini.

Pada kucing yang hamil, larva (cacing yang masih muda) menetap pada jaringan tubuh kucing. Larva ini tidak berbahaya bagi  kucing yang sedang hamil tersebut, akan tetapi ketika kucing tersebut melahirkan, maka larva akan bergerak ke arah kelenjar susu dan karenanya melalui air susu akan menginfeksi anak kucing yang menyusu. Sebagian besar kucing yang baru lahir  terinfeksi cacing gilig dengan cara ini.

Yang perlu diperhatikan bahwa cacing ini dapat menular ke manusia. Meskipun jarang terjadi, anak anak yang tertular cacing gilig ini bisa mengalami kebutaan karena pergerakan larva dalam tubuh bisa menyebabkan kerusakan jaringan.

  1. Cacing tambang

Cacing tambang atau Ancylostoma braziliense merupakan cacing gilig yang berukuran sangat kecil sehingga tidak bisa dengan mudah diamati dengan mata telanjang. Tipis dengan panjang kurang dari setengah cm. Cacing tambang dapat menular pada manusia melalui kulit, hal ini terjadi misalnya ketika berjalan dengan kaki telanjang. Cacing tambang yang masuk ke dalam usus kucing akan menghisap darah dan menyebabkan anemia, pada kucing muda anemia bisa berakibat fatal (mematikan).

Kucing dewasa jarang menunjukkan gejala adanya infestasi cacing tambang (karena sudah kebal) sedangkan pada kucing muda bisa nampak gejala gejala: Diare atau tinja berbentuk lunak, adanya darah dalam tinja, lesu dan lemah serta perut terasa sakit.

Seekor cacing tambang dapat mengeluarkan ratusan telur yang kemudian keluar bersama tinja kucing, larva yang menetas akan tetap tinggal bersama tinja kucing seama beberapa minggu. Apabila kucing menginjak tinja yang mengandung larva tersebut, larva akan menempel pada telapak kaki kucing. Pada saat menjilat jilat, larva akan masuk melalui mulut kucing menuju saluran pencernaan kucing. Hanya dalam waktu 2-3 minggu larva akan tumbuh dewasa dan mengulang siklus yang sama. Sebagai tambahan anak kucing dapat juga terinfeksi melalui sir susu induk yang mengandung cacing.

  1. cacing Pita

Tubuh cacing pita tersusun atas beberapa segmen, bentuknya mirip butiran beras. Terdapat dua spesies yang paling umum pada kucing yaitu Dypilidium caninum dan Taenia taeniaeformis. Pada kucing yang terkena cacing pita ini, biasanya potongan cacing bisa dijumpai dengan mudah pada kotoran atau bulu sekitar ekornya. Potongan cacing ini dapat dikenali dari bentuknya yang seperti beras.

Dypilidium caninum ditularkan melalui kutu. Kutu yang masih muda (larva) memakan telur cacing pita,telur ini kemudian menetas dalam tubuh kutu tersebut menjadi cacing muda. Kutu akan tumbuh dewasa dan menempatkan diri di sela sela bulu kucing untuk menghisap darahnya. Ketika kucing menjilat jilat bulunya (grooming) maka kutu yang mengandung cacing pita muda didalamnya  tersebut ikut tertelan. Cacing muda ini kemudian akan menempel dan tumbuh dewasa pada dinding usus kucing menjadi cacing dewasa. Cacing dewasa akan menyebarkan potongan cacing yang kemudian keluar bersama tinja kucing. Selain itu , potongan cacing juga bisa dikeluarkan bersama muntahan kucing. Bisa diasumsikan kucing yang mempunyai kutu juga mempunyai cacing pita, demikian juga sebaliknya.

Gejala klinis kucing yang menderita, hilangnya berat badan dan adanya potongan cacing pita pada kotoran serta pada bulu di sekitar anus kucing.

Adapun cacing pita Taenia taeniaeformis ditularkan ke kucing melalui tikus,dimana kucing menjadi tertular apabila memakan tikus yang sebelumnya memakan telur cacing pita ini.

Cacing pita dapat diobati dengan obat cacing, namun karena penularannya melibatkan kutu maka pengobatan hanya efektif apabila juga disertai pembasmian kutu kucing.

 

Pemeriksaan Mikroskop 1

Bentukan Cacing

Pemeriksaan Mikroskop 2

Pemeriksaan Mikroskop 3

 

 

 

 

 

 

Untuk kenyamanan dan kesehatan anak bulu anda pengobatan sedini mungkin sangat dianjurkan untuk anak kucing, penerapannya bisa dilakukan sebagai berikut: Pada kucing umur 3 minggu sampai 8 minggu pengobatan diberikan setiap 2-3 minggu sekali, setelah itu pengobatan diberikan setiap bulan sampai kucing umur 6 bulan. Kucing yang  berumur lebih dari 6 bulan bisa diberi pengobatan setiap 1 – 3 bulan sekali. Atau anda bisa membawa anak bulu anda ke klinik hewan dengan rutin, agar kesehatan anak bulu anda selalu terpantau dan dapat dilakukan penanganan yang cepat dan tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *