Halo pawmates, kali ini kami mau berbagi informasi mengenai kutu loncat, yuk pawmates simak ya artikel dari kami.

Mengetahui tentang Ctenocephalides canis dan Ctenocephalides felis pada anjing dan kucing

Anjing dan kucing merupakan hewan domestikasi yang keberadaanya sangat dekat dengan manusia. Penyakit parasitik merupakan masalah yang paling umum ditemukan pada anjing dan kucing. Penyakit ini disebabkan oleh parasit, baik ektoparasit maupun endoparasit. Penyakit parasitik dapat menimbulkan gangguan langsung oleh parasit, infeksi, dan infeksi sekunder (bakteri, virus, parasit lain). Hidup Bersifat keparasitan ialah hidup normal baik sementara maupun selamanya, namun memerlukan adanya oraganisme lain yang memberi makanan dan atau tempat untuk hidup parasit itu. Organisme yang memberi makan tersebut dapat hewan maupun tumbuh-tumbuhan dan keberadaan parasite tersebut mengakibatkan kerugian pada organisme yang ditumpanginya. Jadi parasit itu hidup atas jerih payah organisme lain termasuk hewan kesayanggan kita (anjing dan kucing)

Ctenocephalides felis dan Ctenocephalides canis (pinjal)

Ctenocephalides felis dan Ctenocephalides canisPinjal” adalah serangga yang termasuk Kelas Insekta, ordo Siphonaptera dan famili Pulicidae, pinjal berbentuk badan pipih, tanpa sayap dan kecil. Bagian mulut sesuai dengan fungsinya untuk menyobek dan menghisap, kaki belakang pertumbuhannya sangat subur disesuaikan dengan fungisinya untuk meloncat. Pinjal mengalami metamorphosis lengkap, pinjal  tidak merupakan parasite permanen seperti kutu dan caplak, dan sering meningalkan inang yang satu ke satu spesies yang lain. Pinjal yang paling sering ditemukan pada kucing dan anjing, Siklus hidup dapat memakan waktu 3 minggu, pada tubuh inang dapat gejala klinis seperti iritasi pada tubuh hewan lewat gigitan, menggaruk dan juga dapat menyebabkan anemia pada serangan yang sangat berat, Beberapa hewan menjadi peka terhadap sekresi saliva yang menghasilkan reaksi pruritus yang intens (hipersensitivitas karena gigitan pinjal atau dermatitis alergi pinjal) (Ballweber, 2001).

Pinjal pada kucing (Ctenocephalides felis) kerabat dekatnya pinjal pada anjing (Ctenocephalides canis) dapat ditemukan pada kucing dan anjing. Keduanya akan berfungsi sebagai inang perantara untuk cacing pita Dipylidium caninum. Infeksi cacing pita ini sering dikenali dengan adanya proglottid cacing pita (sering disebut sebagai “segmen”), yang terlihat seperti butiran beras, di kotoran anjing atau kucing. Manusia terkadang terinfeksi cacing pita ini; anak-anak lebih mungkin terinfeksi karena mereka lebih cenderung menelan kutu yang mengandung tahap cacing pita yang belum matang (disebut cysticercoid), (Foreyt, 2001).

Siklus hidup Ctenocephalides  

  1. pinjal dewasa tetap berada pada inang anjing atau kucing, memberi makan dan memproduksi telur.
  2. telur jatuh dari inang dan menetas dalam 2 hingga 5 hari.
  3. Larva memakan kotoran pinjal dewasa yang jatuh dari inang dan serpihan organik yang ada di lingkungan
  4. Larva berkembang menjadi kepompong, di dalam kepompong berserat seperti sutera (cross section)
  5. Pinjal dewasa muncul dari kepompong untuk mencari makanan (darah), (Ballweber, 2001).
Sumber: Pfizer Atlas of Veterinary Clinical Parasitology

Sumber: Pfizer Atlas of Veterinary Clinical Parasitology

Ctenocephalides felis betina, Pinjal pada kucing yang paling umum ditemukan pada anjing, dan Ctenocephalides felis sulit dibedakan dengan Ctenocephalides canis sendiri. Karakteristik yang membantu dalam mengidentifikasi genus ini adalah sisir pronotal. (Zajac dan Conboy 2012)

Dokumen pribadi K and P clinic

Dokumen pribadi K and P Clinic

Proses terjadinya Alergy dermatitis yang menyebabkan oleh pinjal

  1. Kulit normal
  2. ketika seekor pinjal menggigit, akan menyuntikkan sejumlah air liur ke dalam kulit dan akan menyebabkan reaksi inflamasi.
  3. pada hewan yang alergi terhadap air liur pinjal, reaksinya lebih jelas, menyebabkan gatal-gatal, menggaruk dan dapat menyebabkan peningkatan peradangan dan akhir terjadi rambut rontok.
  4. infeksi bakteri adalah gejala sisa umum dari trauma kulit yang disebabkan oleh garukan, (Foreyt, 2001)
Sumber: Pfizer Atlas of Veterinary Clinical Parasitology

Sumber: Pfizer Atlas of Veterinary Clinical Parasitology

Menurut Gillespie dan Pearson 2001, menyatakan bahwa semua pinjal adalah pemakan/penghisap darah dan dalam keadaan lingkugan yang sesuai serta sering menghisap darah, maka yang dewasa dapat hidup beberapa bulan. Bila tidak menghisap darah pinjal dapat hidup dengan umur pendek.

Pinjal merupakan pembawa penyakit menular pada manusia. Xenopsylla cheopis sebagai vektor pasteurella pestis penyebab plaque bubonic di sebagian besar dunia, pinjal lain meliputi pinjal anjing dan kucing  sudah diperlihatkan sebagai pemindah plaque secara percobaan, tetapi tidak terlalu penting dalam keadaan alam. (Bowman, Fogarty dan Barr 2002).

Karena gigitannya yang menyakitkan dan kebiasaan menghisap darah, pinjal merupakan parasit yang sangat menyakitkan sehingga kucing dan anjing sanggat tergangu istirahatnya, dan menurunkan kondisi tubuh, lebih lanjut anjing dan kucing dapat sensitif pada pinjal dan disebut  summer eczema, sering penyebabnya dari infestasi pinjal. Gigitang pinjal menyebabapkan kesakitan pada kulit sehingga terjadi gosokan dan gigitan inang yang mengakibatkan Dermatitis Traumatica.  (Gillespie dan Pearson 2001).

DAFTAR PUSTAKA

Ballweber, L, R, 2001.,The practical Veterinary, Veterinary Parasitology, Butterworth–Heinemann supports the efforts of American Forests and the Global ReLeaf program in its campaign for the betterment of trees, forests, and our environment.

Blagburn, B, L, dan Dryden M, W, 2012., Pfizer Atlas of Veterinary Clinical Parasitology, college of veterinary medicine Auburn Univ. and kansan state univ.

Bowman, D, D. Fogarty E, A. dan Barr, S,C 2002., Parasitology diagnosisand treatment of commonparasitisms in dog and cat.

Gillespie, S, H, dan Pearson R, D, 2001.,Principles and practice of clinical parasitology, john wiley & sons Ltd.

Zajac A. M. dan Conboy G. A. 2012,.Veterinary Clnical Parasitology, 8th Edition, Under the auspices of the American Association of Veterinary Parasitologists.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *